Jangan Biarkan Kursor Itu Berkedip Sendirian: Seni Berdamai dengan Skripsi di Era AI

Arahnesia.ID – Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kopi di meja sudah dingin, menyisakan ampas hitam yang mengendap seperti semangatmu yang perlahan surut. Di depan mata, layar laptop menyala terang, menampilkan satu halaman Microsoft Word yang kosong. Hanya ada satu garis vertikal kecil yang terus berkedip. Blink. Blink. Blink.

Setiap kedipannya seolah mengejek: “Mana ide skripsimu? Mana bab satumu? Teman seangkatanmu sudah seminar proposal, lho.”

Jika adegan ini terasa familiar, tarik napas dalam-dalam. Anda tidak sendirian. Ribuan mahasiswa di seluruh dunia malam ini sedang menatap layar yang sama, terjebak dalam labirin kecemasan yang sama bernama: Skripsi, Tesis, atau Disertasi.

Dulu, obat dari kebuntuan ini adalah tumpukan buku di perpustakaan yang berdebu atau antrean panjang di depan pintu dosen pembimbing yang sibuk. Namun hari ini, lanskap itu berubah. Ada “teman baru” yang siap diajak begadang 24 jam. Namanya ChatGPT.

Tapi tunggu dulu—sebelum Anda berpikir untuk menyuruh teman baru ini mengerjakan segalanya (“Tolong buatkan saya Bab 1 sampai selesai!”), mari kita luruskan satu hal. Itu bukan riset; itu bunuh diri akademis.

Artikel ini bukan tentang cara curang. Ini adalah kisah tentang bagaimana kita, manusia dengan segala keterbatasan kognitifnya, bisa berdansa dengan kecerdasan buatan untuk meruntuhkan tembok penghalang kreativitas. Ini adalah tentang metode Research Model Canvas (RMC) 2.5 yang dipadukan dengan AI, sebuah peta jalan agar Anda tidak tersesat di hutan belantara penelitian.

Teman Diskusi, Bukan Joki Digital

Ada stigma yang menakutkan di ruang-ruang dosen saat ini: “Mahasiswa sekarang malas, semua ditulis AI.”

Baca Juga  Hadirkan Pakar Teknologi, PC PERGUNU Buleleng Bekali Guru Kemampuan Merancang Media Digital

Stigma itu muncul karena penggunaan yang salah. Bayangkan Anda punya teman kuliah yang sangat jenius, membaca jutaan buku, tapi kadang-kadang suka “halu” dan bicaranya ngawur kalau tidak ditanya dengan jelas. Itulah ChatGPT.

Apakah Anda akan menyuruh teman itu menuliskan seluruh hidup Anda? Tentu tidak. Anda akan menjadikannya teman ngobrol. “Eh, menurutmu topik ini menarik nggak? Apa yang kurang ya?”

Di sinilah RMC 2.5 masuk. Metode ini mengubah proposal tebal menjadi tujuh kotak logis dalam satu lembar kertas. Dan untuk mengisi kotak-kotak itu, kita butuh teman diskusi yang tangguh.

Langkah 1: Berburu “Hype” di Lautan Data

Mari mulai dari kotak pertama: Topik. Tragedi terbesar mahasiswa tingkat akhir adalah mengajukan judul yang sudah usang. Ditolak dosen itu sakit, tapi ditolak karena judulnya “basi” itu perih.

Di sinilah kita menggunakan seni Prompt Engineering. Alih-alih melamun, kita bisa meminta ChatGPT berperan sebagai “Profesor Manajemen Pemasaran” (atau bidang apapun yang Anda geluti). Kita suapi dia dengan data terkini—link jurnal Sinta 2 atau artikel dari ScienceDirect—lalu kita bertanya:

“Prof, dari data ini, apa yang sedang tren di dunia? Apa yang sedang ‘seksi’ untuk diteliti?”

Mungkin AI akan menjawab: “Lupakan Impulsive Buying, itu sudah tahun 2010. Sekarang zamannya ‘Hedonic Shopping Value’ atau ‘Emotional Attachment’.”

Tiba-tiba, lampu di kepala Anda menyala. Anda tidak lagi meraba dalam gelap. Anda punya arah.

Langkah 2: Mendengar Bisikan 500 Artikel

Setelah topik ketemu, tantangan berikutnya lebih brutal: Mencari Masalah (Gap). Dosen sering bertanya, “Kenapa kamu meneliti ini? Masalahnya apa?” Dan jawaban “Karena belum ada yang meneliti, Pak” adalah jawaban terburuk sepanjang masa.

Kita butuh bukti. Di era digital, kita punya senjata bernama Publish or Perish dan VOSviewer. Bayangkan Anda bisa mengumpulkan 500 artikel jurnal internasional tentang topik Anda dalam waktu 30 detik. Lalu, Anda melihat peta visualnya: bola-bola warna-warni yang menunjukkan mana topik yang “padat” (jenuh) dan mana yang “renggang” (peluang).

Baca Juga  Pendidikan Moral dan Literasi Digital: “Menguatkan Karakter di Era Teknologi”

Namun, membaca 500 abstrak itu melelahkan. Di sinilah AI kembali berperan. Unggah file hasil pencarian itu ke ChatGPT, dan biarkan dia membaca untuk Anda.

“Carikan saya celah. Apa yang dilewatkan oleh 500 peneliti ini?”

Mungkin dia akan berbisik: “Banyak yang meneliti Brand Love di negara maju, tapi belum ada yang melihat dampaknya pada konsumen di negara berkembang pasca-pandemi.”

Bingo. Itu tiket emas Anda. Itu adalah gap.

Drama “Cinta Tapi Tak Setia”: Sebuah Studi Kasus

Mari kita buat ini lebih manusiawi. Katakanlah Anda menemukan fenomena unik di lapangan. Sebut saja kasus Garuda Indonesia.

Secara teori, jika seseorang mencintai sebuah merek (Brand Love), dia pasti setia (Loyal). Itu logis. Tapi fakta di lapangan berkata lain. Banyak orang Indonesia sangat mencintai Garuda, bangga dengan “Garuda di dadaku”, tapi saat mau terbang ke Bali, mereka beli tiket maskapai lain yang lebih murah.

Ada ironi di sana. Ada drama. Ada kontradiksi.

Saat Anda menceritakan kegelisahan ini pada ChatGPT: “Kenapa ya, orang cinta tapi kok gak pake?”, AI akan membantu Anda merumuskan ini menjadi kalimat akademis yang elegan. Dari sekadar curhatan menjadi Problem Statement.

AI mungkin akan menyarankan: “Coba cek variabel ‘Price Sensitivity’ atau ‘Perceived Risk’. Mungkin cintanya tulus, tapi dompet dan risiko membuatnya selingkuh ke maskapai lain.”

Diskusi ini menghidupkan nalar kritis Anda. Anda tidak lagi sekadar meneliti angka, Anda meneliti perilaku manusia yang kompleks.

Menemukan “Kacamata” Teori

Bagian paling membosankan bagi banyak mahasiswa adalah Landasan Teori. Rasanya kering dan penuh jargon. Tapi tanpa teori, riset Anda hanya sekadar opini warung kopi.

Bayangkan teori sebagai kacamata. ChatGPT membantu Anda memilih kacamata yang pas. “Untuk kasus Garuda tadi, pakai kacamata apa ya yang cocok?”

Baca Juga  Membangun Rumah di Tengah Badai Akademik: Sebuah Peta Jalan Bagi Pejuang Tesis yang Tersesat

AI mungkin menawarkan: Social Identity Theory. Penjelasannya bisa sangat filosofis: “Orang naik Garuda bukan cuma butuh transportasi, tapi butuh identitas. Itu kebanggaan sosial. Tapi jika kebanggaan itu berbenturan dengan realitas risiko (delay, harga), identitas itu goyah.”

Tiba-tiba, skripsi Anda punya nyawa. Punya landasan filosofis yang kuat.

Saat Judul Itu Terukir

Setelah melewati perjalanan diskusi panjang—menentukan metode (kuantitatif atau kualitatif), merancang prosedur, hingga menemukan kebaruan (novelty)—sampailah kita pada momen penobatan: Judul.

Jangan biarkan judul Anda datar. Mintalah ChatGPT bertindak sebagai Reviewer Jurnal Internasional. “Buatkan saya judul yang seksi, akademis, dan menjual.”

Dari yang tadinya hanya “Pengaruh Brand Love terhadap Loyalitas”, berubah menjadi: “Cinta Merek dan Loyalitas Konsumen pada Maskapai Flag Carrier: Studi tentang Peran Kepercayaan dan Persepsi Risiko.”

Terdengar gagah, bukan?

Penutup: Anda Adalah Pilotnya

Pada akhirnya, artikel ini ingin menyampaikan satu pesan sederhana: Teknologi tidak mematikan kreativitas, jika Anda tahu cara memegangnya.

Menggunakan RMC 2.5 dengan bantuan ChatGPT adalah tentang efisiensi. Ia memangkas waktu Anda untuk bengong menatap layar, sehingga energi Anda bisa dipakai untuk hal yang lebih penting: berpikir, menganalisis, dan turun ke lapangan.

Kecerdasan Buatan hanyalah kopilot. Andalah pilotnya. Andalah yang memutuskan arah, Andalah yang merasakan turbulensi di lapangan, dan Andalah yang akan tersenyum lega saat sidang skripsi nanti, ketika dosen penguji bertanya dan Anda bisa menjawab dengan lantang karena Anda benar-benar memahami apa yang Anda tulis—hasil diskusi panjang dengan sang kawan digital.

Jadi, jangan biarkan kursor itu berkedip sendirian lagi. Sapa dia. Mulailah mengetik. Dan selesaikan apa yang sudah Anda mulai.

Penulis: Arahnesia EditorialEditor: Arahnesia Editorial