Arahnesia.ID – Arus pragmatisme liberalistik kian menggerus nilai-nilai luhur dalam masyarakat modern, menghasilkan manusia yang cenderung materialistis, mengutamakan keuntungan instan, dan tercerabut dari akar budayanya. Sebagai solusi fundamental, etnosains berbasis Filsafat Profetik menawarkan kerangka berpikir yang integral dan berakar pada nilai-nilai transendental untuk mengembalikan keseimbangan hidup bermasyarakat.
Etnosains merupakan kajian tentang pengetahuan ilmiah yang dimiliki oleh masyarakat atau suku bangsa tertentu, yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya dan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan atau praktik sehari-hari. Di Bali, etnosains memiliki relasi yang sangat erat dan saling memperkuat dengan kearifan lokal yang telah mengakar kuat, terutama dalam manifestasi filosofi Tri Hita Karana.
Kearifan lokal Bali, yang berlandaskan pada Tri Hita Karana (hubungan harmonis dengan Tuhan, manusia, dan alam), bukan sekadar keyakinan spiritual, tetapi juga merupakan himpunan pengetahuan empiris dan pragmatis tentang cara mengelola kehidupan dan lingkungan secara berkelanjutan. Di sinilah letak irisan antara etnosains dan kearifan lokal Bali.
Etnosains, sebagai pengetahuan lokal empiris masyarakat adat, menyimpan kekayaan cara pandang holistik terhadap alam dan kehidupan, yang sering kali terpinggirkan oleh sains modern yang reduksionistik. Namun, etnosains saja tidak cukup kuat membendung gempuran ideologi liberalistik tanpa pijakan filosofis yang kokoh.
Di sinilah filsafat Profetik, yang digagas oleh Kuntowijoyo, memainkan peran krusial. Filsafat ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu humanisasi (pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan), liberasi (pembebasan dari struktur sosial yang tidak adil), dan transendensi (menghubungkan kembali kehidupan duniawi dengan nilai-nilai ketuhanan).
Sinergi antara etnosains dan filsafat Profetik menciptakan konsep baru seperti ulasan berikut ini. Pertama, mengembalikan makna transendensi atas pragmatisme liberalistik yang cenderung sekuler dan mengabaikan dimensi spiritual. Etnosains berbasis filsafat Profetik mengembalikan kesadaran bahwa pengetahuan lokal tidak lepas dari keyakinan religius dan hubungan vertikal dengan Tuhan (transendensi). Hal ini mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi, melainkan manifestasi suci yang harus dihormati.
Kedua, mewujudkan humanisasi dimana solusi ini mendorong pengakuan dan pemberdayaan masyarakat lokal serta pengetahuannya. Ini adalah bentuk humanisasi yang melawan pandangan liberalistik bahwa hanya pengetahuan sains modern yang sahih. Pengetahuan lokal diangkat martabatnya, memberdayakan komunitas untuk menjadi subjek pembangunan mereka sendiri.
Ketiga, aksi liberasi berbasis kearifan dengan menggali etnosains melalui kerangka Filsafat Profetik, kita menemukan cara-cara adaptif dan berkelanjutan dalam mengelola sumber daya alam. Ini adalah tindakan liberasi dari ketergantungan pada model pembangunan kapitalistik yang merusak lingkungan dan tidak adil secara sosial.
Krisis modern akibat pragmatisme liberalistik bukan terletak pada penolakan total terhadap modernitas, melainkan pada rekonstruksi pengetahuan yang berakar pada kearifan lokal (etnosains) yang diperkaya oleh visi etis dan transendental (filsafat Profetik). Ini adalah tawaran solusi yang holistik, adil, dan bermakna untuk masa depan yang lebih seimbang.
Etnosains bukan sekadar slogan pendidikan; ia adalah cara berpikir yang memungkinkan pengetahuan tradisional menjadi relevan dalam era global. Di Bali, kearifan lokal seperti sistem irigasi subak, ritus-ritus agraris, dan praktik ritual Nyepi menyimpan konsep “ilmiah lokal” yang berharga. Pengelolaan air berbasis sosial institusional, kalender tanam terkoordinasi, serta praktik konservasi spiritual yang menjaga keseimbangan manusia-alam.
Peranan etnosains Bali diantaranya dapat dilihat pada beberapa kasus berikut ini. Pertama, etnosains menyandang legitimasi praktis sebagai langkah dan ritual turun-temurun sering kali berdasar pada observasi ekologis yang panjang dan teruji secara sosial. Subak, misalnya, bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga sebagai institusi kolektif yang mengatur aliran air, pembagian risiko, dan pengetahuan lokal tentang musim tanam sehingga menciptakan ketahanan pangan lokal yang tahan uji. Pengakuan UNESCO terhadap Subak menegaskan bahwa kearifan ini berharga sekaligus relevan untuk masalah air abad 21.
Kedua, etnosains menyediakan jembatan budaya untuk pendidikan sains yang lebih kontekstual. Banyak studi dan program pendidikan menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis etnosains meningkatkan pemahaman konsep sains sekaligus menguatkan identitas lokal generasi muda. Hal ini penting agar tradisi tidak punah oleh homogenisasi global.
Tantangan global etnosains di Bali merupakan respons atas berbagai hal.
- Perubahan iklim dan krisis air. Etnosains Subak menawarkan praktik pengelolaan air kolektif yang dapat diadaptasi untuk skala lebih luas misalnya, sistem aliran terintegrasi, pengaturan rotasi sawah, dan ritual pemeliharaan mata air yang menanamkan nilai konservasi. Namun transformasi ini butuh data kuantitatif dan kolaborasi antara petani, ilmuwan, dan pembuat kebijakan untuk merancang solusi hibrida.
- Komersialisasi budaya dan pariwisata. Globalisasi ekonomi sering mengubah ritual menjadi komoditas. Etnosains harus diformalkan sebagai pengetahuan yang punya hak intelektual kolektif: dokumentasi, mekanisme partisipatif, dan kebijakan yang melindungi komunitas adat dari eksploitasi sambil membuka ruang untuk manfaat ekonomi yang adil.
- Digitalisasi pengetahuan. Arsip digital, sensor lingkungan, dan citizen science membuka kesempatan memadukan pengetahuan leluhur dengan data modern. Misalnya, rekaman kalender tanam tradisional dapat diuji terhadap data curah hujan historis untuk merumuskan protokol adaptasi. Tantangannya adalah akses teknologi inklusif dan menjaga konteks kultural saat pengetahuan diubah bentuk.
Etnosains di Bali bukan warisan yang harus dibekukan di museum , namun harus dibaca ulang, diuji, dan direkayasa ulang supaya bernapas di dunia modern. Dengan menghormati tradisi (kearifan lokal) sekaligus memanfaatkan alat ilmiah dan kebijakan yang tepat, Bali dapat menjadi laboratorium hidup untuk model pembangunan yang berkelanjutan dan berbudaya sebuah jawaban lokal terhadap tantangan global. Etnosains berbasis filsafat Profetik merupakan penjaga kearifan lokalTri Hita Karana yang selalu hidup dan menghidupi.
Daftar Pustaka
- Artikel & kajian tentang Subak dan UNESCO (berita & kajian): Media Indonesia / Antara / World Water Forum laporan ringkas (UNESCO dan Subak).
- Dewi, N.L.G.N.S. (2024). Kajian etnosains dan kearifan lokal [PDF]. Repo Undiksha.
- Sarini, P. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Etnosains Bali bagi Calon Guru IPA. Jurnal Pendidikan (UNDIKSHA).
- Wazni, M.K. (2023). Ethnoscience Studies in Making of Bale Adat: Literature Review. JPPIPA.
- Wikipedia. Etnosains. Diakses dari Wikipedia bahasa Indonesia.(*)












