Literasi Baca Al-Qur’an sebagai Pemetaan Mutu Guru PAI

Literasi Baca Al-Qur’an sebagai Pemetaan Mutu Guru PAI | Sumber: Arahnesia Editorial

Arahnesia.ID – Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran strategis dalam pembentukan karakter, spiritualitas, dan kecakapan literasi keagamaan peserta didik di sekolah. Di tengah tantangan globalisasi, disrupsi nilai, serta rendahnya indeks literasi nasional, keberadaan guru PAI yang kompeten tidak hanya dituntut mampu mengajar secara pedagogis, tetapi juga harus memiliki kompetensi keagamaan yang utuh dan terstandar, khususnya dalam kemampuan membaca AQur’an secara benar, tartil, dan berlandaskan kaidah ilmu tajwid.

Literasi tuntas baca Al-Qur’an pada guru PAI menjadi prasyarat fundamental bagi mutu layanan pembelajaran agama Islam di sekolah. Guru PAI bukan sekadar penyampai materi, melainkan model (uswah) bagi peserta didik dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai sumber nilai, etika, dan peradaban. Ketika guru PAI memiliki kompetensi baca Al-Qur’an yang kuat, maka proses pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga transformatif dan berorientasi pada pembentukan akhlak.

Dalam konteks kebijakan nasional, literasi baca Al-Qur’an pada guru PAI memiliki relevansi langsung dengan Program Literasi Nasional, khususnya penguatan budaya baca, pemahaman teks, dan internalisasi nilai. Pada saat yang sama, penguatan kompetensi ini menjadi instrumen strategis dalam menanamkan nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yaitu Islam yang moderat, humanis, toleran, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Literasi baca Al-Qur’an tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kemampuan teknis melafalkan huruf hijaiyah. Literasi Al-Qur’an mencakup kemampuan membaca secara fasih dan tartil, memahami makna dasar ayat, serta menampilkan sikap hormat dan etika terhadap Al-Qur’an sebagai kitab suci. Bagi guru PAI, literasi ini merupakan kompetensi profesional dan spiritual yang melekat pada identitas dan profesi guru (pendidik).

Guru PAI yang belum tuntas dalam literasi baca Al-Qur’an berpotensi mengalami keterbatasan dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya pada aspek tilawah, tahsin, dan penguatan nilai Qur’ani. Kondisi ini secara langsung dapat memengaruhi kualitas pembelajaran PAI di sekolah dan menurunkan kepercayaan peserta didik terhadap otoritas keilmuan guru.

Baca Juga  EMIS untuk Tata Kelola Pendidikan Keagamaan

Oleh karena itu, program literasi tuntas baca Al-Qur’an bagi guru PAI harus diposisikan sebagai bagian dari penjaminan mutu guru agama, setara dengan penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Literasi Al-Qur’an yang tuntas menjadi fondasi bagi integritas keilmuan dan moral guru PAI dalam menjalankan tugas pendidikan.

Mutu layanan Pendidikan Agama Islam di sekolah sangat ditentukan oleh kualitas guru sebagai aktor utama pembelajaran. Literasi tuntas baca Al-Qur’an pada guru PAI berfungsi sebagai standar minimal mutu layanan keagamaan, terutama dalam pembelajaran yang berkaitan langsung dengan sumber ajaran Islam.

Dengan kompetensi baca Al-Qur’an yang baik, guru PAI mampu:

  1. Membimbing peserta didik membaca Al-Qur’an secara benar dan berkelanjutan.
  2. Mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembelajaran secara kontekstual dan relevan.
  3. Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagai bagian dari budaya literasi sekolah.

Lebih jauh, literasi Al-Qur’an yang kuat memungkinkan guru PAI mengembangkan pembelajaran yang moderat dan inklusif. Pemahaman yang baik terhadap teks Al-Qur’an akan mencegah penyampaian ajaran yang tekstual, sempit, atau berpotensi menimbulkan sikap eksklusif. Dengan demikian, literasi baca Al-Qur’an berkontribusi langsung pada kualitas substansi dan orientasi pembelajaran PAI.

Program Literasi Nasional bertujuan membangun budaya baca, kemampuan memahami teks, serta daya pikir kritis peserta didik. Dalam kerangka ini, literasi baca Al-Qur’an pada guru PAI memiliki posisi strategis sebagai literasi religius yang memperkaya ekosistem literasi nasional.

Guru PAI yang literat Al-Qur’an dapat mengintegrasikan praktik membaca, memahami, dan merefleksikan teks Al-Qur’an ke dalam aktivitas literasi sekolah. Kegiatan seperti tadarus terprogram, pembacaan ayat bermakna, dan diskusi nilai Qur’ani menjadi bagian dari penguatan literasi berbasis nilai.

Pendekatan ini menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebagai teks ritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi literasi, etika, dan kemanusiaan. Dengan demikian, layanan PAI di sekolah berperan aktif mengawal Program Literasi Nasional melalui pendekatan yang kontekstual, bermakna, dan berakar pada nilai spiritual.

Baca Juga  Refleksi Akhir Tahun dan Recovery Penuh Empati

Al Qur’an jug amenjawab tentang Islam Rahmatan lil ‘Alamin sekaligus menegaskan bahwa ajaran Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, mengedepankan nilai kasih sayang, keadilan, toleransi, dan perdamaian. Literasi baca Al-Qur’an yang baik pada guru PAI menjadi pintu masuk utama untuk memahami pesan universal tersebut secara utuh dan proporsional.

Guru PAI yang memiliki literasi Al-Qur’an yang kuat akan lebih mampu menafsirkan dan menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual, seimbang, dan moderat. Hal ini penting untuk mencegah lahirnya pemahaman keagamaan yang kaku, eksklusif, atau bertentangan dengan prinsip kebangsaan dan kemanusiaan.

Melalui pembelajaran PAI yang berlandaskan literasi Al-Qur’an yang baik, nilai-nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin dapat diinternalisasikan dalam sikap peserta didik, seperti saling menghormati, cinta damai, peduli lingkungan, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.

Untuk menjadikan literasi tuntas baca Al-Qur’an sebagai standar mutu guru PAI, diperlukan strategi yang sistematis dan berkelanjutan. Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh antara lain:

  1. Pemetaan dan asesmen kompetensi baca Al-Qur’an guru PAI secara periodik dan objektif.
  2. Program peningkatan kompetensi (tahsin dan tahfidz dasar) yang terstruktur dan berjenjang.
  3. Integrasi literasi Al-Qur’an dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) guru PAI.
  4. Penetapan literasi baca Al-Qur’an sebagai bagian dari standar mutu layanan PAI di sekolah.

Langkah-langkah tersebut harus dilaksanakan dengan pendekatan pembinaan, bukan sekadar penilaian administratif, sehingga mendorong kesadaran dan komitmen guru PAI untuk terus meningkatkan kompetensi diri.

Literasi tuntas baca Al-Qur’an pada guru Pendidikan Agama Islam merupakan fondasi penting dalam menjamin mutu guru agama dan kualitas layanan PAI di sekolah. Kompetensi ini tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan teknis keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam mengawal Program Literasi Nasional dan memperkuat internalisasi nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Baca Juga  Tuntas Baca Al Qur’an (TBQ) evaluasi Literasi Nasional

Dengan guru PAI yang literat Al-Qur’an, pembelajaran agama Islam di sekolah akan lebih bermakna, moderat, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik yang religius, humanis, dan berwawasan kebangsaan. Oleh karena itu, penguatan literasi tuntas baca Al-Qur’an harus menjadi agenda prioritas dalam kebijakan penjaminan mutu pendidikan agama Islam di Indonesia.(*)